MEDIA CNN

CNN

6/recent/ticker-posts

KAKANWIL KEMENAG PROV NTT, MENGAJAK SELURUH UMAT BERAGAMA DI NTT BIJAK DALAM MENGIMLEMENTASIKAN SE MENTERI AGAMA



Kupang, CNN Kementrian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, segera mengambil langkah dalam menindaklanjuti Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE. 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama  Provinsi Nusa Tenggara Timur Reginaldus S.S. Serang, S.Fil, M.Th., mengajak seluruh umat beragama di Nusa Tenggara Timur, untuk  dapat mengimplementasikan edaran ini dengan bijak, sesuai dengan kaidah-kaidah yang tertuang.(26/2/2022)


Hal ini agar tidak menimbulkan bias persepsi dan juga opini di tengah masyarakat yang plural. SE ini tentunya menjadi pedoman dalam upaya meningkatkan kehidupan yang tentram, tertib dan harmonis antar warga masyarakat.


 “Mari rawat keharmonisan dan toleransi umat beragama”, ajak Kakanwil, kepada masyarakat.


Terkait video pernyataan Bapak Menteri Agama di Pekanbaru, Kakanwil Naldy menegaskan, “tidak ada maksud sama sekali Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas untuk membandingkan atau mempersamakan  suara adzan atau suara yang keluar dari masjid dengan gonggongan anjing, Menag hanya mencontohkan mengenai pentingnya pengaturan pengeras suara agar sesama umat beragama mesti saling menghargai, salah satunya dengan mengurangi volume pengeras suara. Hal yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor SE. 05 Tahun 2022 secara substansi bukan melarang tetapi sebagai pedoman dalam penggunaan pengeras suara pada rumah ibadah. Edaran dimaksud bertujuan untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama, sambung Kemenag.


Berikut ini ketentuan dalam Surat Edaran Menteri Agama tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala:

Umum

Pengeras suara terdiri atas pengeras suara dalam dan luar. Pengeras suara dalam merupakan perangkat pengeras suara yang difungsikan/diarahkan ke dalam ruangan masjid/musala. Sedangkan pengeras suara luar difungsikan/diarahkan ke luar ruangan masjid/musala.

Penggunaan pengeras suara pada masjid/musala mempunyai tujuan:

mengingatkan kepada masyarakat melalui pengajian AlQur’an, selawat atas Nabi, dan suara azan sebagai tanda masuknya waktu salat fardu;

menyampaikan suara muazin kepada jemaah ketika azan, suara imam kepada makmum ketika salat berjemaah, atau suara khatib dan penceramah kepada jemaah; dan

menyampaikan dakwah kepada masyarakat secara luas baik di dalam maupun di luar masjid/musala.

Pemasangan dan Penggunaan Pengeras Suara

pemasangan pengeras suara dipisahkan antara pengeras suara yang difungsikan ke luar dengan pengeras suara yang difungsikan ke dalam masjid/musala;

untuk mendapatkan hasil suara yang optimal, hendaknya dilakukan pengaturan akustik yang baik;


volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel); dan

dalam hal penggunaan pengeras suara dengan pemutaran rekaman, hendaknya memperhatikan kualitas rekaman, waktu, dan bacaan akhir ayat, selawat/tarhim.

Tata Cara Penggunaan Pengeras Suara

Waktu Salat:

Subuh:

sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) menit; dan

pelaksanaan salat Subuh, zikir, doa, dan kuliah Subuh menggunakan Pengeras Suara Dalam.

Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya:

sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) menit; dan

sesudah azan dikumandangkan, yang digunakan Pengeras Suara Dalam.

Jum’at:

sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) menit; dan

penyampaian pengumuman mengenai petugas Jum’at, hasil infak sedekah, pelaksanaan Khutbah Jum’at, Salat, zikir, dan doa, menggunakan Pengeras Suara Dalam.

Pengumandangan azan menggunakan Pengeras Suara Luar.

Kegiatan Syiar Ramadan, gema takbir Idul Fitri, Idul Adha, dan Upacara Hari Besar Islam:

penggunaan pengeras suara di bulan Ramadan baik dalam pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarrus Al-Qur’an menggunakan Pengeras Suara Dalam;

takbir pada tanggal 1 Syawal/10 Zulhijjah di masjid/musala dapat dilakukan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar sampai dengan pukul 22.00 waktu setempat dan dapat dilanjutkan dengan Pengeras Suara Dalam.

pelaksanaan Salat Idul Fitri dan Idul Adha dapat dilakukan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar;

takbir Idul Adha di hari Tasyrik pada tanggal 11 sampai dengan 13 Zulhijjah dapat dikumandangkan setelah pelaksanaan Salat Rawatib secara berturut-turut dengan menggunakan Pengeras Suara Dalam; dan

Upacara Peringatan Hari Besar Islam atau pengajian menggunakan Pengeras Suara Dalam, kecuali apabila pengunjung tablig melimpah ke luar arena masjid/musala dapat menggunakan Pengeras Suara Luar.

Suara yang dipancarkan melalui Pengeras Suara perlu diperhatikan kualitas dan kelayakannya, suara yang disiarkan memenuhi persyaratan:

bagus atau tidak sumbang; dan pelafazan secara baik dan benar.

Pembinaan dan Pengawasan:

pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Surat Edaran ini menjadi tanggung jawab Kementerian Agama secara berjenjang.

Kementerian Agama dapat bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dan Organisasi Kemasyarakatan Islam dalam pembinaan dan pengawasan


Sementara itu, Kepala Bidang Haji dan Bimas Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT Drs. Husen Anwar juga menegaskan bahwa SE. 05 Tahun 2022 ini telah disosialisasikan kepada umat muslim melalui  pimpinan lembaga agama, ormas keagamaan Islam dan penyuluh agama melalui surat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT Nomor B-2458/Kw.20.1.5/HM.00/02/2022.


 “Sosialisasi ini sebagai bentuk edukasi kepada kita semua untuk dapat mencermati dan menindaklanjuti SE ini sesuai dengan manfaatnya” kata Husen.


 Sebagai bentuk dukungan dan tindak lanjut SE ini, seluruh Kepala Kantor Kementerian Agama Kab/Kota, Kepala Seksi dan Penyelenggara diundang dalam Rapat Koordinasi Bidang Haji dan Bimas Islam tanggal 1 s.d 3 Maret 2022 untuk mensosialisasikan dan membahas persoalan-persoalan yang terjadi akhir-akhir ini.


Penyunting : Arifin